Cinta & Air Mata

Jika mencintai itu indah mengapa harus ada air mata❤

Jika mencintai itu menyakitkan kenapa harus ada tawa❤

dimana letak kasih sayang jika tiada keikhlasan❤

dimana letak kehidupan jika tiada perasaan❤

cinta tanpa iman tak lebih penghianat rasa❤

cinta tanpa taqwa adalah awal dari kehancuran❤

waspadai cinta karena dia buta❤

tiada satupun cinta yg abadi kecuali cinta kepada sang Pencipta

diambil dari tulisan komunitas Untukmu Calon Imamku yang Tertulis Di Lauhul Mahfudz

Dengan Apakah Mengukur Kebahagiaan itu?

Penulis : Rini Rahmawati

Ramadhan...bulan yang membuat semua orang bersuka cita menyambutnya. Berbagai kegiatan dilaksanakan. Suasana semakin menyejukkan, walaupun aktivitas terus berjalan namun nuansa Ramadhan itu sangat lain dari bulan-bulan yang ada. Setiap kali melewati mesjid atau mushola terdengar alunan merdu lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Apalagi menjelang buka puasa, setiap orang sibuk dengan kegiatannya. Ada yang mempersiapkan diri untuk sholat tarawih, menghidangkan buka puasa sambil berkumpul dengan keluarga.
Ramadhan kali ini terasa sangat berbeda buatku. Ya....Ramadhan kali ini kulalui tanpa kehadiran mama di keluarga kami. Beberapa bulan yang lalu mama dipanggil oleh sang Illahi untuk menghadap-Nya. Sebuah kondisi yang sangat sulit harus kami lalui apalagi ketika memasuki bulan Ramadhan ini.

Mama, sosok mulia yang sangat kami sayangi. Kehadiran mama selalu menceriakan rumah ini. Mama, sosok yang sangat tegar melalui kehidupan. Sekarang sosok bijaksana itu telah pergi, seakan-akan kepergiannya juga merenggut separuh kebahagiaan di rumah ini.


Nasehat Ibu Tentang Negeriku

Semilir angin menerpa dedaunan di sela-sela pohon beringin yang menjulang tinggi. Hari itu merupakan salah satu kenanganku dengan almarhumah mama tercinta. Aku menikmati jalan pagi dengan mama menyusuri pinggiran kota kecil tempat kelahiranku. Mama termasuk orang yang sangat senang jalan-jalan, apalagi tempat yang dituju merupakan tempat-tempat yang indah. Mama adalah seorang guru yang mengabdikan dirinya di salah satu sekolah yang berada di pinggiran kota. Bagiku mama merupakan guru terbaik buat siapapun apalagi buat anak-anaknya. Dari mama aku banyak belajar tentang kehidupan. Nasehat-nasehatnya ibarat mutiara berkilau yang selalu menyejukkanku.

Aku senang apabila mama bercerita padaku tentang masa kecil dan masa remajanya. Masa-masa itu dilewatinya ketika negeri ini masih dijajah. Sungguh memprihatinkan nasib para rakyat kecil ketika penjajahan itu masih merajalela di negeri ini. Nasib rakyat bagaikan budak di tanahnya sendiri. Kekayaan alam yang melimpah tidak mampu mengenyangkan perut rakyatnya karena selalu habis dikeruk oleh penjajah. Jadi pada masa itu tidak hanya penderitaan batin yang mereka rasakan tetapi penderitaan fisik juga selalu menghantui rakyat jelata. Perlawanan demi perlawanan bergejolak dimana-manaa hanya untuk meraih sebuah kemerdekaan untuk negeri yang dicintai ini.