BOSKU GALAK...?

Seperti kebanyakan orang setelah lulus dari kuliah pasti akan sibuk kesana kemari untuk mencari kerja. Begitu juga aku, yang ada dalam impianku waktu itu adalah secepatnya bisa dapat kerja sehingga aku bisa membahagiakan orang tuaku yang mungkin sudah susah payah menyekolahkanku.

Memasuki gerbang dunia baru setelah lulus kuliah ternyata memang tidak seindah impianku. Berbagai informasi berusaha kucari untuk bisa memasukkan lamaran kerja. Lembar demi lembar surat lamaran aku kirim dengan harapan salah satu dari surat itu membawa keberuntungan untukku yaitu mendapat panggilan untuk bisa kerja. Doa dan usaha sudah cukup maksimal kulakukan, lewat itu pula aku terus minta doa sama orang tuaku.




Suatu ketika dalam penantianku untuk dapat kerja terjawab dengan berderingnya suara handphoneku, “ Selamat Pagi, bisa bicara dengan saudari Rini Rahmawati? Iya Pak, saya sendiri.” Kami dari Yayasan Cendikia Bangsa, beberapa minggu yang lalu saudari ada memasukkan lamaran kerja ke sekolah kami untuk bisa menjadi salah satu pengajar, berdasarkan surat lamaran tersebut kami mau memanggil saudari untuk mengikuti tes yang akan kami adakan. Kami tunggu kehadirannya pada tanggal itu. Iya Pak, saya akan datang untuk mengikuti tes tersebut, terima kasih banyak atas informasinya. Iya, sama-sama selamat pagi.” Telponpun ditutup. Seakan masih tak percaya, akhirnya aku dapat panggilan kerja. Fiuhhh…sedikit lega rasanya hati ini walaupun perjuangan memperoleh kerja itu masih belum sempurna karena aku harus mengikuti beberapa tes untuk bisa menjadi salah satu pengajar di sekolah itu.
Yayasan Cendikia bangsa, merupakan salah satu sekolah swasta yang terkenal di kotaku. Siswa yang bersekolah disana sangat banyak dan mereka juga harus memasuki beberapa tes masuk sekolah untuk bisa bersekolah disana. Reputasi sekolah itu memang tidak meragukan lagi. Mencetak lulusan-lulusan yang berkualitas. Menurut sepengetahuanku guru-guru disana juga seleksinya sangat ketat. Hmm…pasti saingannya sangat banyak, aku mulai bergumam. Sedikit terbersit rasa ragu mengikuti tes minggu depan.

Hari yang ditentukan untuk mengikuti tes tertulispun telah tiba. Aku sudah menyiapkan semua yang aku perlukan ketika tes nanti. Jarak yang kutempuh dari rumah menuju sekolah Cendikia Bangsa lumayan sangat jauh, jadinya aku harus berangkat pagi-pagi sekali untuk menhindari hal-hal yang tidak bisa aku ketahui. Dengan naik sepeda motor, aku mulai menuju kota Banjaramsin dengan harapan aku bisa membawa hasil yang terbaik untuk masa depanku nanti.

Ya…Allah, mungkin ini memang keberuntungan buatku. Lewat kuasa-MU akhirnya aku bisa mendapat kerja. Sebanyak 3 kali mengikuti tes dan yang terakhir wawancara aku dinyatakan lulus seleksi guru untuk sekolah Cendikia Bangsa. Aku sangat bahagia, sangat sulit kupercaya karena aku bisa berhasil lulus seleksi dengan persaingan yang sangat banyak dan ketat. Awal ajaran ini aku mulai jadi guru di sekolah itu meskipun masih dalam tahap training selama 4 bulan. Selama 4 bulan itu aku hanya menjadi pendamping guru kelas dan guru bidang studi IPA dan Matematika.
Masa-masa awal bergabung dengan para guru di sekolah ini cukup menyenangkan. Semuanya terlihat sangat ramah dan sopan. Ketua Yayasan, Kepala Sekolah dan Para Guru sangat menerima kedatangan kami para guru baru dengan antusias dan siap menemani kami dalam masa training ini.

Jam kerja di sekolah Cendikia Bangsa dari pukul 07.00 – 17.00 wita. Peraturan yang diterapkan di sekolah ini juga lumayan sangat ketat. Semua guru dan siswa selalu dipenuhi kegiatan dan aktivitas masing-masing. Untuk peraturan secara umum ditetapkan oleh Yayasan dan orang-orang yang terlibat didalamnya. Hmm….sepertinya aku harus cepat bisa beradaptasi dengan semua peraturan tersebut.
Jam 06.30 wita, biasanya aku sudah harus berangkat dari rumah yang sekarang ini aku tempat. Setelah aku diterima sebagai guru di sekolah Cendikia Bangsa, aku mnenempati rumah kakakku. Rumahnya tidak terjauh jauh dari sekolah, Cuma aku harus berangkat pagi-pagi untuk menghindari kemacetan di wilayah dekat sekolah. Kadang lucu juga bila melihat tingkah laku para guru yang berdesak-desakkan dengan kerumunan mobil macet di jalan sekolah, ada yang sambil lari-lari, sembarangan meninggalkan motornya di halaman yang belum sempat terparkir hanya untuk menuju ruang absen guru, bila telat 1 menit tulisan absen bakalan merah dan itu tandanya akhir bulan nanti akan dapat denda keterlambatan sampai di sekolah bahkan nama-nama guru yang sering terlambat itu akan dipajang di mading sekolah khusus guru
3 bulan aku sudah menjalani masa training guru baru. Sedikit demi sedikit aku mulai merasakan dan mengetahui ternyata para guru-guru disini terlibat persaingan secara tersembunyi satu sama lain. Mereka semua kurasa punya tujuan tersendiri ketika melakukan itu. Awalnya aku menganggap semua biasanya saja terjadi di dunia kerja. Yang penting bagiku persaingan itu membawa dampak positif untuk sekolah ini. Misalkan saja antara guru yang satu dengan guru yang lain terlihat saling menonjolkan kreativitas masing-masing dan ingin dicap sebagai guru yang kreatif.
4 bulan berjalan, aku mulai mencium gelagat yang aneh dari beberapa guru senior di sekolah ini. Selidik demi selidik ternyata ada beberapa diantara mereka cuma terlihat manis ketika dihadapan kita padahal di belakang kita mereka berusaha menjelek-jelekkan dengan berita-berita bohong. Walaupun aku berusaha tidak mempercayai berita yang disampaikan salah seorang temanku tapi tetap tidak bisa karena aku bisa sedikit merasakan hal lain ketika berada dekat dengan mereka. Pada awalnya aku hanya berusaha memberikan kontribusiku yang terbaik untuk sekolah ini karena aku merasa sebagai seorang yang baru dalam lingkungan ini jadi wajar saja jika semua yang kulakukan selalu berusaha menuruti apa yang ditetapkan dan tidak melanggarnya. Lama kelamaan berita itu sedikit demi sedikit mempengaruhi hatiku, aku diberitakan berusaha mengambil hati pimpinan dan orang-orang Yayasan dengan menampilkan kinerja yang bagus dihadapan mereka. Memang selama ini aku terlihat cukup aktif diskusi dan memberikan pendapat masukan dalam kegiatan yang diadakan oleh Yayasan untuk menunjang kreativitas guru seperti mengikuti seminar, pelatihan dan lain-lain. Serasa ingin menangis dan marah jika dituduh seperti ini. Rasa sedih dan kesal campur aduk rasanya di kepala ini. Aku terlibat aktif seperti itu bukan karena untuk cari muka sama pimpinan melainkan ini sudah kebiasaanku yang sering ikut organisasi ketika di kampus dulu. Dasar orang-orang iri, mereka takut kalau posisi mereka yang sudah senior tergeser dengan keberadaan junior ditengah mereka. Rasa kesal seakan membuncah didadaku. “Apa sih salahku terhadap mereka, kenapa pula mereka berpikiran seperti itu! Benar-benar ngga ada kerjaan ngurusin urusan orang, sebel juga kenal dengan orang-orang aneh seperti itu...!! Ana, salah satu temanku mencoba menenangkanku. “sabarlah Rin, tidak hanya kamu yang kena tudingan seperti itu...wajar ajalah jika rasa iri itu menghinggapi mereka, yang penting kita ngga kaya gitu.”

Berjalannya waktu, aku tidak menghiraukan tudingan-tudingan itu lagi, karena kurasa hampir semua guru disini bersaing. Apalagi dengan banyaknya tugas yang dibebani untuk para guru jadi wajar saja jika mereka sedikit tertekan. Setidaknya akupun merasakan hal itu. Banyaknya tugas guru yang harus dijalankan membuat diri ini lelah lahir batin. Selain mengajar, kami juga harus mengerjakan hal-hal lainnya terkait dengan siswa dan perangkatnya.

Tak terasa 8 bulan berjalan dan aku sudah tidak dalam masa training lagi. Sekarang tanggung jawabku jadi bertambah karena posisiku sekarang menjadi guru kelas atau wali kelas. Tugasku menangani kelas yang diberikan padaku. Selain menangani para siswa aku juga bertanggung jawab terhadap semua kritikan dan saran dari orang tua siswa. Untuk masing-masing guru kelas, kami harus bisa memberikan yang pelayanan terbaik untuk para siswa agar mereka senang belajar di kelas. Oleh karena itu kami diharuskan membuat peraturan kelas, menata ruang, bahkan harus mendekor ruang kelas yang biasa kami sebut dengan mendisplay kelas sesuai tema yang disepakati bersama. Para siswa yang bersekolah disini tidak dibolehkan belanja keluar sekolah jadi setiap mereka istirahat pagi setelah belajar mereka dapat snack pagi dan makanan yang mereka bawa dari rumah. Dari pemberian snack pagi sampai makan siang para guru diharuskan mengatur para siswa tersebut dengan tertib, tidak dibolehkan ada keributan yang bisa mengganggu siswa lainnya. Setelah siswa bisa diatur baru para guru dibolehkan untuk mengambil jatah snack pagi dan makan siang pada waktunya. Yang namanya mengatur anak-anak memang cukup sulit apalagi jika mengharuskan mereka untuk tidak ribut. Namun, kadang tetap saja kami mendapat teguran dari Pak Agung Kepala Sekolah Cendikia Bangsa. Pak Agung, memang terkenal sangat tegas dalam memimpin. Hampir semua guru tidak menyukai beliau selain tegas beliau orang sangat pemarah, bahkan tidak sungkan-sungkan beliau bisa saja memarahi kami dihadapan para siswa. Menurutku Pak Agung merupakan orang yang sukar mengontrol emosi padahal beliau orangnya terlihat sebagai sosok yang berwibawa dan mempunyai skill kepemimpinan yang bagus. Tidak ada satupun yang berani dengan beliau, entah karena beliau salah satu orang Yayasan atau karena tidak mau ikut campur terlalu jauh dengan semua urusan orang lain yang nantinya berpengaruh pada kerja masing-masing.

Aku juga pernah kena marah Pak Agung gara-gara ada beberapa guru bidang studi yang menerapkan sistem hukuman pada anak yang sulit diatur pada jam mengajar mereka. Padahal hukuman yang mereka lakukan bukanlah hukuman yang menyakitkan fisik. Hukumannya berupa berdiri di depan kelas atau di coret sama spidol pipi siswa nakal yang suka mengganggu teman. Ternyata hal tersebut tidak disukai oleh orang tua sehingga orang tua melaporkan pada Pak Agung. Namaku dipanggil lewat speaker sekolah disuruh menghadap Pak Agung di ruang Kepala Sekolah. Tiba disana aku lihat ada Wakil Kepala Sekolah dan beberapa guru yang sedang mengerjakan sesuatu. Dihadapan mereka aku ditegur habis-habisan sama Pak Agung. “ Rin, kamu taukan saya kemarin dapat kritikan langsung sama salah satu orang tua siswa, mereka kecewa dengan perlakuan salah seorang guru ketika mengajar di kelasmu. Kenapa sih, harus dihukum segala, ditegur aja kan bisa..!! Walaupun aku berusaha menjelaskan semuanya tapi beliau tetap tidak menghiraukan penjelasanku. Aku dianggap tidak becus mengawasi guru bidang studi ketika mengajar bahkan aku dikira sering keluar kelas ketika guru bidang studi lagi mengajar. Padahal semua wali kelas tidak dibolehkan keluar kelas walaupun dia sedang lagi tidak mengajar. Di dalam hati aku sangat kesal dan marah dengan semua tuduhan yang disampaikan Pak Agung padaku. Marah, kesal, sedih dan malu rasanya bergejolak dihatiku. Bahkan kadang terbersit pikiran ingin keluar dari kerjaan ini.

Suatu ketika, kami mendapat pengumuman yang memberitahukan kalau sekolah Cendikia Bangsa mau ikut akreditasi sekolah. Akhirnya sehabis siswa pulang sekolah, kami seluruh guru diminta untuk hadir di ruang rapat untuk membahas persiapan akreditasi sekolah. Setelah semua guru terkumpul, rapat berjalan lancar dengan hasil rapat yang sangat banyak yang mesti dilaksanakan. Tujuan Pak Agung kali ini membuat sekolah Cendikia Bangsa memperoleh akreditasi A, padahal sekolah ini belum terlalu lama berdiri atau baru berjalan sekitar 6 tahun walaupun termasuk baru cuma sekolah ini cukup terkenal di kalangan masyarakat. Pekerjaan kamipun semakin menumpuk, selain mengajar dan mengatur anak-anak kami juga diharuskan untuk segera melengkapi administrasi sekolah dan kelas yang masih belum lengkap. Batas waktu yang dikasih sangat sedikit hanya dua minggu padahal teknis administrasi yang dikerjakan sangat banyak. Terkadang kami harus lembur sampai malam di sekolah bahkan ada yang sampai menginap di laboratorium komputer sekolah. Keluhan dan kekesalan semakin menyeruak, ternyata tidak hanya aku yang sangat kesal dengan perintah ini. Bahkan kadang kami terlibat diskusi antar teman, “kenapa sih, Pak Agung itu terlalu memaksakan kehendaknya...mau bersaing dengan sekolah Tunas Harapan yang sudah 20 tahun berdiri jadi wajar aja jika sekolah itu akreditasinya A.”

Arggghhh....rasanya aku ingin sekali berteriak membuncahkan semua kekesalan ini, kalau kulihat guru-guru di sekolah lain cukup nyaman menjalani kerja mereka. Pulang skolah sekitar jam 14.00 wita, beban membuat RPP atau Silabus mata pelajaran seperti biasanya saja tidak seperti kami yang harus terlihat sempurna dan tidak boleh mengikuti contoh sekolah manapun, guru di sekolah lain bisa menikmati hari libur bersama keluarga sangat jauh berbeda dengan kami hari libur selalu diisi dengan kegiatan seminar ataupun pelatihan, sangat sulit rasanya mendapatkan kenikmatan hari libur untuk bisa kumpul dengan keluarga. Entah sampai kapan kesabaranku ini bisa bertahan sudah 9 bulan aku bergabung di sekolah ini.
Keotoriteran Pak Agung dalam memimpin sekolah ini masih berlanjut, bongkahan rasa kesal dan marah semakin memuncak. Ana, temanku sore tadi dipecat karena kelalaian dia dalam kinerja salah satunya ketika menangani nilai-nilai siswa. Ana akhir-akhir ini memang terlihat sangat membangkang dalam mengerjakan tugas – tugasnya, keluhannya sama halnya dengan aku dan mungkin guru-guru yang lainnya. Walau aku terus berusaha menasehatinya tapi dia tetap tidak bergeming. Kalau aku masih bisa menahan kekesalan ini cukup berontak dalam hati tapi tugas tetap kujalani.

Tidak ada yang berani menegur kepemimpinan Pak Agung. Yayasan melihat hal ini biasanya saja karena kalau dilihat selama kepemimpinan Pak Agung, sekolah Cendekia Bangsa semakin maju. Maka dari itu sikap otoriter yang dimiliki Pak Agung tetap berjalan juga. Hari ini tepat 1 tahun aku mengabdikan diri di sekolah ini, bersama itu pula tepat hari ini aku mengajukan surat pengunduran diri dari sekolah Cendikia Bangsa. Banyak yang tidak menyangka aku akan melakukan itu karena selama berada di sekolah ini aku selalu berusaha terlihat tenang dalam menghadapi masalah. Semua keluhan, kekesalan, dan kemarahanku hanya terpendam dalam hati. Aku sudah cukup merasa lelah dengan semua kejadian disini. Dengan alasan yang cukup logis aku mengajukan untuk mundur dari sekolah ini. Dilematis yang mungkin menghinggapi hati saat itu, aku sangat menyayangi siswa-siswa Cendikia Bangsa kadang dari gelak tawa mereka bisa menghilangkan rasa lelah pada fisik dan batin ini. Sebagian teman-teman guru juga bisa menjadi penghiburku dikala banyaknya tugas yang kami pikul. Ya...aku memutuskan mundur setelah aku menikah dan aku berkeinginan untuk bisa lebih banyak meluangkan waktuku untuk keluarga baruku.

2 bulan....setelah aku keluar dari sekolah Cendikia Bangsa, aku masih berkomunikasi baik dengan para guru dan karyawan di sana tidak terkecuali juga dengan Pak Agung. Aku sekarang bersama suami membuka usaha sendiri yaitu mendirikan Lembaga Pendidikan berupa Bimbingan Belajar. Ketika dalam posisi ini aku baru menyadari kenapa dulu Pak Agung brsikap seperti itu. Hmm...ternyata menjadi seorang pemimpin itu sangatlah susah. Aku baru memimpin beberapa orang guru di Lembaga ini apalagi Pak Agung yang harus memimpin puluhan guru dengan berbagai karakter yang sifat. Kita sebagai pemimpin pasti akan berusaha memberikan yang terbaik untuk siswa dan pelayanan untuk orang tua siswa, namun...tiba-tiba usaha itu dihancurkan oleh tingkah guru yang tidak sesuai aturan, entah itu berkaitan dengan kedisiplinan maupun dengan kejujuran. Rasa ingin marah terhadapguru tersebut pasti ada, mungkin seperti itu juga yang dialami Pak Agung. Tapi bagiku sikap Pak Agung terlalu ekspresif, kemarahan beliau terlalu diperlihatkan padahal sebaiknya ketika rasa marah itu muncul sebagai pemimpin kita harus bisa sedikit tenang dan menahan emosi karena teguran yang dikeluarkan ketika marah itu merupakan teguran yang salah bahkan bisa membuat orang yang dimarahi bisa melawan atau semakin lari dari tanggung jawab. Memberi teguran ketika hati sudah tenang itu lebih baik, bisa membuat orang yang ditegur merasa malu dengan perbuatan dia sehingga kejadian yang mmbuat hati kita marah tidak terulang lagi. Persaingan antar teman atau sesama guru juga wajar terjadi tapi rasa persaingan itu harus diarahkan ke hal yang positif seperti semakin menambah sikap kreativitas terhadap kerjaan. Menumpuknya beban bagi orang bekerja itu hal wajar tapi tinggal cara kita saja lagi mensikapi bban tanggung jawab itu apabila disikapi dengan keluh kesah maka beban kerjaan itu semakin berat tapi sebaliknya.

Jadi...bila kita sangat marah dengan seseorang cobalah kita berempati, kita posisikan diri kita pada posisi dia. Setelah rasa empati ada dalam diri kita maka niscaya rasa marah bisa kita redam. Sekarang haluan hidupku sudah berputar, dulu keinginan kerja sangat membuncah tapi sekarang rasa itu sudah tidak ada lagi. Aku menyakinkan diri untuk membuka usaha sendiri dengan tujuan bisa membantu orang-orang yang ingin mencari kerja. Cara hidup berwirausaha ini diajarkan oleh suamiku, dan ketika menjalani aku baru mengerti bagaimana ketika kita menjadi seorang pemimpin itu. Hmm...sekarang aku mulai mengerti kenapa Pak Agung dulu brsikap seperti itu.

0 komentar:

Post a Comment