Dengan Apakah Mengukur Kebahagiaan itu?

Penulis : Rini Rahmawati

Ramadhan...bulan yang membuat semua orang bersuka cita menyambutnya. Berbagai kegiatan dilaksanakan. Suasana semakin menyejukkan, walaupun aktivitas terus berjalan namun nuansa Ramadhan itu sangat lain dari bulan-bulan yang ada. Setiap kali melewati mesjid atau mushola terdengar alunan merdu lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Apalagi menjelang buka puasa, setiap orang sibuk dengan kegiatannya. Ada yang mempersiapkan diri untuk sholat tarawih, menghidangkan buka puasa sambil berkumpul dengan keluarga.
Ramadhan kali ini terasa sangat berbeda buatku. Ya....Ramadhan kali ini kulalui tanpa kehadiran mama di keluarga kami. Beberapa bulan yang lalu mama dipanggil oleh sang Illahi untuk menghadap-Nya. Sebuah kondisi yang sangat sulit harus kami lalui apalagi ketika memasuki bulan Ramadhan ini.

Mama, sosok mulia yang sangat kami sayangi. Kehadiran mama selalu menceriakan rumah ini. Mama, sosok yang sangat tegar melalui kehidupan. Sekarang sosok bijaksana itu telah pergi, seakan-akan kepergiannya juga merenggut separuh kebahagiaan di rumah ini.




Masih kuingat dengan jelas, ketika mama masih ada. Ramadhan terasa sempurna dengan keberadaannya. Dengan keikhlasannya dia melayani kami semua. Menjelang sahur ataupun buka puasa, dia selalu menyuguhkan masakan kesukaan kami masing-masing karena yang kutahu mama orang yang sangat pandai memasak. Dengan kesabarannya rumah ini terlihat sangat bersih dah indah dengan warna warni bunga di halaman. Mama...walaupun kau disibukkan dengan tugasmu sebagai pengajar di salah satu sekolah tapi kau tidak pernah mengabaikan tanggung jawabmu terhadap rumah dan keluarga ini. Sosok religius mama juga sangat melekat dalam dirinya. Jangankan pada bulan Ramadhan di bulan-bulan lainpun setiap terdengar gemericik air ditengah malam buta maka yang kutemui adalah sosoknya yang lagi wudhu untuk mengerjakan sholat lail.

Aku termasuk anak yang cukup sulit ketika diatur salah satunya kalau disuruh untuk sholat tarawih di mushola. Berbagai alasan pasti kulontarkan untuk menghindari suruhan mama ikut dia sholat tarawih berjama’ah di mushola. Apalagi untuk urusan masak memasak sangat jarang aku membantunya. Walau demikian, mama tidak pernah marah denganku. Kadang mama hanya menegurku lewat nasehat dan candanya. “duh, anakku yang satu ini orangnya cantik nan ayu, tapi kok belum bisa masak ya...” sekarang setelah mama tiada aku mulai merindukan candaan dan nasehat-nasehatnya itu.

Aku satu-satu anak perempuan dalam keluarga ini. Aku mempunyai dua orang saudara laki-laki. Ada sedikit kekhawatiran dalam benakku ketika menyambut bulan yang suci ini. Aku tidak bisa seperti mama. Aku tidak bisa sepandai mama dalam memasak. Aku tidak bisa sebersih dan setelaten mama dalam mengurus rumah. Apalagi ketika kami semua sudah kumpul bersama di rumah. Sering terbersit pertanyaan dalam benakku “akankah aku bisa mengisi kekosongan rumah ini tanpa kehadiran mama?” Padahal aku ingin sekali mengembalikan keceriaan yang hilang dari rumah ini. Ma...semuanya terasa sulit.

Ketika sahur menjelang, kucoba menghidangkan masakan yang aku buat. Walau ada ketakutan kalau masakanku ini tidak enak tapi aku ingin membuat Bapak dan kakak-kakakku senang. Hmm...semuanya diam, “masakannya lumayan enak” tiba-tiba Bapak membuyarkan kesunyian santapan sahur kali ini. “iya, enak...dua jempol deh buat adikku ini” kakakku menyahut omongan Bapak. Tak terasa air mataku meleleh mengalir lembut di pipi ini. “aku janji Pak, aku akan terus belajar masak, belajar bersih-bersih rumah, nyuci baju dan yang lainnya seperti mama dulu” Bapak hanya memelukku dengan diam. Aku tahu kegalauan hatinya setelah kepergian mama. Bahkan dulu ketika mama mendekati sakaratul maut, Bapak sangat tidak rela dan ikhlas ditinggal oleh mama. Ketika mama sudah dinyatakan tiada oleh tim dokter, Bapak langsung pingsan. Sangat jelas terlihat dimataku kerapuhan yang kini mendera kehidupan Bapakku. Maka dari itulah aku ingin sekali mengembalikan keceriaan di rumah ini. Dalam hati aku berjanji walaupun tidak bisa 100% aku bisa mengembalikan keceriaan ini setidaknya kehangatan rumah ini kembali bersinar.

“wahai hati, kau harus tegar menghadapi semua ini. Semua makhluk yang diciptakan itu hanya sebuah titipan, apabila sang pencipta menginginkan makhluknya itu kembali kepangkuan-Nya maka tidak ada daya kekuatan apapun untuk menolaknya.” Penggalan kata yang selalu aku baca dan aku ukir di dinding hati ini. Malam ini aku teringat ketika mama suka sekali membangunkan tidurku untuk mengajakku sholat lail bersama. Sekarang aku mulai membiasakan diriku untuk mengerjakan itu. “Ya Rabb, dalam doaku ini aku meminta kepada-Mu, Ampunanilah semua dosa ibuku, terimalah segala amal kebajikan yang dia lakukan selama mengarungi kehidupan dibumi-Mu yang fana ini, terangilah alam kuburnya, kutitipkan rasa sayang dan rindu ini untuk ibuku ya Allah...”

Rasa iri kadang menghampiri diriku kalau melihat para keluarga yang masih lengkap memiliki orang tua apalagi mama. Kehadiran mama dalam kehidupan seorang anak sangatlah penting. Ramadhan....bagi mereka sangat menyenangkan karena ada mama yang selalu mendampingi mereka, bisa menyiapkan hidangan sahur dan buka puasa bersama, mendampingi mereka untuk menunaikan berbagai macam ibadah di bulan suci ini. Dan masih banyak lagi kebahagiaan yang bisa mereka rasakan di bulan suci ini. Ahh...kadang rasa iri ini terlalu berlebihan, apakah di benak Bapak juga terlintas rasa ini. Apalagi kalau kulihat para tetangga di sekitar rumah Bapak, masih bisa berbahagia dengan pasangannya masing-masing. Terlihat ketika mereka pergi bersama ke mushola untuk sholat tarawih brjama’ah. Tapi sekarang Bapak hanya pergi sendiri yang biasanya ditemenin mama, sekarang tidak bisa lagi. Kutahu rasa sedih dan sepi itu ditutupinya.

Suatu hari menjelang buka puasa, kami lagi duduk santai di teras rumah. “Pak, Bapak kan sekarang sendiri tinggal di rumah ini...sebaiknya Bapak ikut kami aja, Bapak boleh milih mau tinggal di rumah siapa? Jadi biarlah rumah ini kita kontrakkan aja” Kakakku memberanikan diri bicara sama Bapak. Semburat senyum yang tulus terpancar di bibir Bapak yang mulai menuai masa tuanya. “Buat apa Bapak harus meninggalkan rumah ini...nak, lebih 30 tahun mama kalian menemani Bapak, Bapak tidak bisa melupakan kenangan Bapak sama mama. Di selalu ada untuk Bapak dalam keadaan bagaimanapun. Dengan tetesan keringat kami membangun rumah ini untuk menjadikan rumah ini sebagai tempat yang layak untuk membesarkan kalian.

Kalian jangan berpikir setelah mama tiada semuanya bisa berubah. Jasad mama mungkin sudah tiada tapi di hati ini dia tetap hidup untuk Bapak. Almarhumah mama kalian sangat merawat dan menjaga rumah ini maka sekarang biarlah bapak yang meneruskan tugas mama atas rumah ini. Makanya pada bulan suci ini ksempatan buat Bapak untuk lebih menyayangi mama kalian lewat doa-doa yang Bapak sedekahkan. Yakinlah, Bapak tidak apa-apa...melihat kalian sukses dan berhasil itu sudah cukup buat Bapak jadilah anak yang sholih dan sholihah karena hal itulah yang bisa membahagiakan mama kalian di alam kuburnya.
MasyaAllah, Pak...kata-katamu cukup puitis tapi mengandung kebijakan dalam mengarungi hidup ini. Sekarang aku mulai mengerti dan memahami kondisi ini. Kata-kata Bapak sore tadi membuyarkan keegoisanku selama ini. Semenjak kepergian mama aku sangat banyak mengeluh, menghiasi hati dengan rasa iri dan mungkin masih banyak lagi perbuatan lain yang tidak disukai Allah. Seharusnya aku masih mensyukuri keadaan ini, walau mama telah tiada tapi aku masih punya keluarga yang sangat menyayangiku. Masih ada sosok Bapak yang mengajarkanku untuk bisa menerima segala takdir dari Allah dengan rasa syukur. Kematian bisa mnjelang kapan saja, seharusnya aku bisa bersyukur masih bisa membuka mata ketika bangun dari tidur dan menyambut hari dalam bulan Ramadhan ini dengan penuh harapan bisa lebih meningkatkan amal ibadah disepanjang harinya.

Orang yang sudah meninggal telah selesai urusannya dengan dunianya. Sekarang waktunya buat orang yang masih hidup untuk selalu mendoakannya. Aku berharap masih terus bisa menemui Ramadhan selanjutnya. Aku ingin mama bahagia dengan kehadiran anak-anaknya yang selalu mendoakan beliau di alam kuburnya. Kehadiran anak yang sholih dan sholihah. Ma...insyaAllah, aku tidak akan mengecewakanmu.

Sekarang...aku juga sudah menyandang gelar sepertimu, menjadi seorang istri dan seorang ibu. Walaupun aku sedikit terlambat belajar banyak darimu tentang kehidupan ini akibat kelakuanku dulu yang suka membantah tapi itu tidak akan memutuskan harapanku untuk bisa lebih baik lagi. Lewat kenangan itulah aku mempelajari semuanya. Ramadhan kali ini....kasih sayang semakin melimpah. Rumah Bapak sudah penuh dengan keramaian coleteh cucu-cucu beliau. Sambil memandangi foto mama yang masih terbingkai rapi di dinding rumah, dalam hati aku berkata, Ma....lihatlah sekarang rumah ini tidak lagi sepi, inilah cucu mama yang mungkin tidak sempat mama melihat kehadirannya di dunia ini, cucu mama ini juga tidak pernah melihat dan merasakan kasih sayang sang nenek tapi aku akan selalu menceritakan padanya tentang sosok neneknya sangat luar biasa bahkan mungkin untaian kata tidaklah cukup untuk menceritakan keistemewaanmu.

0 komentar:

Post a Comment