Bersamanya Aku Bisa!

Hamil suatu momen yang sangat aku nantikan setelah menikah. Aku sangat ingin merasakan keajaiban itu. Membayangkan ada sebuah kehidupan baru didalam diriku, sesuatu yang belum pernah aku rasakan. 3 bulan kulalui setelah menikah, belum ada tanda-tanda kehamilan dalam diriku. Perasaan was-was dan khawatir mulai menggelayutiku, padahal baru 3 bulan menikah perasaan takut itu sudah muncul dalam benakku. Tapi, aku yakin naluri setiap wanita yang sudah menikah yang ingin segera punya anak pasti akan merasakan kekhawatiran yang sama. Apalagi program supaya bisa hamil sudah dijalani dengan konsisten.


3 bulan berlalu, bulan berikutnya. Momen bahagia yang kunanti akhirnya mulai menyapaku. Pagi itu, dengan hati sedikit ragu dan takut kuberanikan diri untuk melakukan testpack. Dada terasa berdegup kencang, panas dingin sekujur tubuh menanti hasil dari alat tersebut. Hasil dari testpack mulai terlihat, terucap jutaan rasa syukur tersirat dalam hatiku. 2 garis merah tergambar jelas, tak terasa airmataku yang tertahan mulai tumpah. Ketika suamiku melihat aku sedang menangis, dia mulai menenangkanku, dia mengira testpackku kali ini gagal lagi seperti bulan-bulan yang lalu. Tapi ketika kulihatkan hasil testpack yang ada aditanganku, dia terlihat sangat bahagia.





Masa kehamilan mulai kujalani. Baru aku mengetahui bagaimana rasanya hamil. Terkadang kalau melihat rahim seakan tidak percaya kalau ada sebuah kehidupan baru yang terjadi didalam sana. Suamiku mulai sedikit protektif dan cerewet. Aku yakin semua itu untuk kebaikanku dan janinku. 3 bulan pertama, aku mengalami morning sickness yang sangat hebat. Tidak hanya mual yang aku rasakan bahkan sampai muntah. Berat badan turun sangat drastis. Semua makanan yang masuk selalu sukses dikeluarkan semua lewat muntah. Bahkan aku sempat mengalami tekanan darah yang sangat rendah yang mengakibatkan aku sering tidak sadarkan diri. Melihat keadaan ini, aku mulai berpikir betapa hebatnya almarhumah ibuku dulu. Ketika beliau mengandungku selama 9 bulan lebih. Sakit rasanya hati ini karena merasa belum banyak berbakti dengan beliau. 3 bulan pertama, bisa kulalui dengan susah payah. Tapi keberadaan suamiku dalam keadaan ini sangatlah membantuku. Bulan demi bulan terus kujalani. Bahkan aku sudah mulai merasakan kehidupan baru yang ada dalam rahimku ini sudah bergerak-gerak. Sensasi yang sangat luar biasa setiap ada keajaiban baru yang kurasakan dengan kehadiran janinku ini. Apalagi ketika waktunya untuk periksa ke dokter, seakan jadwal baru buatku untuk mengunjungi janinku ini karena aku bisa melihatnya langsung lewat pemeriksaan USG. Detak jantungnya, gerakan tangan dan kakinya yang mungil semakin memecah kerinduanku untuk bisa segera memeluknya secara langsung.



Kehamilan ini membuat aku semakin banyak bersyukur dan harus semakin dewasa untuk menghadapi kehidupan ini, karena akan lahir sebuah amanah besar yang telah dititipkan kepadaku dan aku harus bisa bertanggung jawab dengan kehadirannya. Selama hamil aku memang hanya berdua menghadapinya dengan suamiku, keluarga kami cukup jauh. Apalagi aku sudah tidak mempunyai ibu, jadi kehamilan ini aku jalani tanpa banyak ilmu yang bisa kudapat dari seorang ibu. Namun hal itu tidaklah mengecilkan hatiku, bagiku sudah cukup aku punya suami yang selalu ada disampingku. Kadang dia juga membantuku mencari ilmu seputar kehamilan bahkan persalinan. Bagiku, ini salah satu bentuk yang mengajarkanku untuk bisa lebih mandiri. Rasa takut dengan kehamilan disebabkan tidak ada ibu disamping tidaklah menghinggapiku karena aku sangat menikmati kehamilan ini sebagai sebuah anugerah yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya. lewat oretan ini menjadi salah satu pemenang dalam lomba menulis tentang kehamilan

0 komentar:

Post a Comment