Pahlawanku, Heroik versus Drama Korea

Sekarang gema hari Pahlawan lagi semarak dikumandangkan dimana-mana. Kisah heroik para pahlawan bangsa mulai dikuak kembali satu persatu. Diperkenal pada para generasi bangsa semua kisah para pahlawan tersebut. Anak-anak mulai membayangkan sosok pahlawan yang mereka kagumi.
Untuk si sulung anakku yang baru berusia 7 tahun, sedikit demi sedikit kukenalkan para pahlawan bangsa ini yang sudah berjuang demi kemerdekaan. Meskipun pemikirannya masih kecil, saya yakin suatu saat dia akan mengerti arti dari semua ceritaku.
Di benak sulungku sosok pahlawan yang dia tahu hanyalah para tokoh kartun seperti Tobot, Robocar Poli dan lain-lain. Saya memahami kondisi ini, karena dia berada pada zaman milineal seperti ini maka tontonan yang dia lihat itulah yang dia tahu.
Kita sebagai orang tua tidak usah khawatir, setidaknya dalam benak anak kita mulai kita tanamkan teladan atau sikap yang positif yang ada dalam diri tokoh kartun yang dia gemari.
Samahalnya dengan diriku sendiri. Mempunyai sosok pahlawan yang sangat aku hormati, sayangi & kagumi. Tidak ada yang mengenalnya, sikap kepahlawannya tersembunyi tidak tampak mata dan tidak disadari oleh siapapun.
Perjuangan yang dia lakukan tak kenal lelah, dari detik demi detik tetesan keringat dia persembahkan untuk negeri ini dan keluarganya. Tidak ada keluhan yang keluar dari lisannya. Hanya untaian doa yang terus mengalir untuk kejayaan negeri ini dan orang-orang yang dia sayangi.
Satu hal yang menarik dari pahlawanku ini. Beliau sangat suka nonton drama korea. Suatu hal yang fantastis bagiku, seseorang yang memiliki jiwa heroik ternyata juga memiliki sisi melankolis. Disudut mata senjanya bisa kutemukan sisi teduh yang biasa kita lihat di drama-drama korea. Kalau ditelusur lebih mendalam bisa diambil sisi positifnya juga dari sekian banyak drakor yang sering disebut-sebut orang. Mengajarkan arti kesabaran, ketenangan, kebijaksanaan dan lain sebagainya.
Bagi seorang yang berjiwa pahlawan hal tersebut diperlukan juga. Jadi selain jiwa heroik maka jiwa melankolis positif juga diperlukan. Sehingga keseimbangan bisa terjadi dengan sempurna.
Berkaca dari dua orang yang sangat berarti dalam hidupku yaitu anakku yang mengartikan pahlawan bagi dirinya adalah Tobot dan kawan-kawan. Maka selayaknya aku juga memperkenalkan seorang pahlawan yang selama ini yaitu ibuku sendiri atau nenek dari anakku, seorang penyuka drama korea dan membuatku juga suka dengan drakor
Ibuku seorang guru di desa yang kuanggap sebagai pahlawanku. Mengajar di pelosok desa, memberikan sedikit sumbangsih untuk generasi bangsa. Beliau pahlawan yang tidak terkenal tapi jiwa kepahlawanan sangat terpatri dalam dirinya untuk negeri ini. Tidak hanya itu semua sejarah bangsa sudah mengakar dalam benaknya sehingga kalau menjelang tanggal 10 November serangkaian cerita pahlawan bangsa akan mengalir dimulutnya.
Anakku sangat wajib kukenalkan salah satu sosok pahlawanku ini karena anakku tidak sempat bertemu dengan pahlawanku ini di dunia. Pahlawanku itu kini sudah terbaring tenang dipangkuan sang Pencipta-Nya.
Pahlawanku adalah ibuku, pahlawan yang tidak dikenal bahkan tidak ingin dikenang.

Referensi : Pengalaman pribadi
Gambar : Pemuda Silampari

0 komentar:

Post a Comment