Fenomena Guru Robot di Tengah-tengah Guru Manusia



Teknologi zaman sekarang sudah semakin maju. perkembangan tekhnologi yang maju dan pesat seperti sekarang ini kadang membuat kita berpikir nyaris tidak ada yang tidak mungkin yang bisa diciptakan oleh manusia. Manusia telah berhasil menciptakan berbagai macam kemajuan teknologi seperti televisi 3 dimensi, membuat rancang bangunan yang megah, jembatan terpanjang yang sebelumnya hal-hal seperti ini tidak pernah kita pikirkan. Di negara dengan tekhnologi di atas rata-rata seperti Jepang, Korea, dan China bahkan telah menginjak aspek pengembangan robot untuk mempermudah kerja manusia nantinya.

Dari beberapa berita yang mulai tersebar sampai ke negara kita yaitu adanya penggunaan robot yang dijadikan sebagai tenaga pengajar atau guru. Di Korea Selatan, tepatnya di kota Daegu telah menggunakan jasa pengajar robot. Robot-robot tersebut telah difungsikan untuk mengajar sekitar 21 sekolah dasar dengan mata pelajaran Bahasa Inggris.

Masih di Korea, guru robot tersebut juga didatangkan ke sekolah-sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) untuk mendidik anak usia dini, guru-guru robot tersebut membantu dalam mengawasi siswa, mengajarkan senam, bahkan mengabsen para siswa. Para siswa terlihat sangat menyukai akan keberadaan robot-robot pengajar tersebut. Pendapat para guru yang berada disana positif, bahkan mereka merasa sangat senang karena dengan adanya guru robot tugas mereka lebih ringan dan mereka menyambutnya dengan optimis.

Pengembangan robot yang berbentuk bulat telur dengan layar diatasnya dan mempunyai tinggi 1 meter ini dilaksanakan oleh The Korea of Science and Technology (KIST). Robot ini dapat membaca, berbicara, dan menari untuk keperluan pengajaran.
Display layar yang berada di atas robot ini menampilkan wajah seorang guru. Mereka membuat sensor agar robot dapat membaca dan menampilkan ekspresi guru tersebut dalam layar. Beberapa siswa yang ditanyai mengenai kinerja guru ini mengaku bahwa dengan adanya guru robot, mereka lebih tertarik untuk fokus ke pelajaran. Mereka juga tidak perlu merasakan nervous saat mendengarkan pelajaran atau ditanyai guru tersebut.

Fenomena tentang keberadaan guru robot memang bukan yang pertama kali terdengar. Di Jepang bahkan sosok guru robot bisa menyerupai manusia sesungguhnya. Namun apakah guru robot ini memang relevan digunakan untuk mengajar siswa? Apa yang terjadi seandainya guru-guru robot itu juga hadir di Indonesia dan memasuki berbagai sekolah yang ada. Memang akan banyak pendapat yang bisa terlontar untuk pertanyaan ini. Bagi mereka yang setuju kemungkinan akan melihat dari segi teknologinya jadi dengan keberadaan guru-guru robot ini teknologi terlihat semakin sangat maju dan manusia akan bertambah kreatif karena saingan guru tidak lagi hanya dengan sesame manusia tetapi ada tambahan lain yaitu robot yang kreatif. Disamping itu pula adanya guru robot ini bisa mengurangi beban mengajar para guru, guru bisa berkarya lebih maju lagi dan pihak sekolah tidak perlu susah payah mencari guru manusia yang kadang lebih banyak menuntut.

Tampaknya kita perlu berpikir banyak tentang ini semua. Secara sepintas memang guru robot mempunyai sedikit resiko dibandingkan dengan guru konvensional atau guru manusia. Mereka tidak akan menuntut kenaikan gaji dan tunjangan atau melakukan demonstrasi jika aspirasinya tidak tercapai. Kita harus berpikir ulang tentang pengajaran ketika meletakan dasar konsep tentang pemberian tugas peletakan nilai dan moral pada siswa. Guru robot tentu tidak bisa diprogram sekompleks mungkin menyerupai manusia hingga bisa mengajar nilai dan moral kepada siswa.

Bagi orang-orang yang tidak sependapat dengan keberadaan guru robot ini maka mereka akan mengatakan banyak alasan antara keberadaan guru robot hanya akan menimbulkan masalah sosial baru yaitu meningkatnya pengangguran bagi profesi guru yang sebelumnya dipegang oleh guru manusia. Selain itu pula, bangsa kita yang sedang krisis jati diri, moral serta nilai ini tidak bisa mendapatkan hal-hal kompleks mengenai berbagai kebaikan yang hanya dipunyai manusia dan hal itu tidak ada pada guru robot. Tugas seorang guru manusia juga bukan hanya membuat manusia pandai dengan apa yang dia ajarkan tetapi juga haruslah dapat mengubah perilaku manusia. Mengubah dari yang tidak beradap menjadi beradap. Robot hanyalah hasil dari peradaban manusia, lalu apakah mungkin bila hasil dari ciptaan manusia dibuat untuk mencetak manusia dengan peradaban yang lebih maju?

Untuk mendidik manusia harapan bangsa dibutuhkan guru-guru manusia yang mempunyai hati dan jiwa. Kadang dididik oleh guru manusia saja terkadang anak-anak dibentuk seperti robot yang harus mematuhi segala aturan dan keinginan bagaimana jadinya kalau dididik oleh robot yang tidak punya hati dan jiwa? padahal dalam hal mendidik anak dibutuhkan banyak ketrampilan kognitif, motorik kasar dan halus, bahasa, moral agama yang semuanya itu tidak dimiliki oleh robot secara sempurna. Sebatas mengenalkan robot pada anak tentu sangat membantu mengembangkan kemampuan sains mereka, namun apabila memasuki ranah dalam mengajar sepertinya hal tersebut belum begitu dibutuhkan. Sebaiknya sekarang ini kita lebih fokus membina guru-guru manusia yang ada menjadi guru yang dapat mendidik dengan hati & jiwa yang seluruh disertai dengan keikhlasan dan tanggung jawab penuh terhadap tugas-tugasnya.


Salam




#ODOP 
#EstrilookCommunity 
#Day16

0 komentar:

Post a Comment