Keunikan Adat Istiadat di Kota Seribu Sungai



Indonesia merupakan negara yang sangat kaya. Adat istiadat yang ada di Indonesia juga sangat beranekaragam. Keanekaragaman itulah yang membuat Indonesia menjadi semakin kaya dengan warisan leluhur yang berkembang dan terus dijaga.
Provinsi Kalimantan Selatan letaknya di sebelah selatan pulau Kalimantan. Dilihat secara geografis keadaan alamnya meliputi dataran rendah, rawa-rawa, sungai-sungai serta dataran tinggi dan pegunungan dengan lembah dan ngarainya. Di bagian selatan dan timur dikelilingi oleh pantai dan laut.

Banjarmasin merupakan ibukota dari Kalimantan Selatan, kota ini juga dikenal kata lain yaitu sebagai kota seribu sungai. Di kota inilah aku dilahirkan dan dibesarkan. Kota kecil ini juga memiliki adat istiadat yang unik sebagai warisan leluhur untuk para generasi selanjutnya. Keunikan adat istiadat inilah membuat aku semakin bangga dengan kota kelahiranku ini. Kelestarian adat istiadat ini masih terjaga baik sampai sekarang.

Aku ingin berbagi informasi tentang keunikan adat istiadat yang ada di kotaku ini. Salah satu suku yang di kota ini yaitu Suku Banjar. Salah satu adat istiadat yang biasa dilakukan oleh Suku Banjar yaitu




UPACARA ADAT PERKAWINAN



Pelaksanaan proses perkawinan dilalui dengan berbagai macam prosesi adat antara lain :

1. Basasuluh


Istilah dari Basasuluh yaitu menilai “bibit-bebet-bobot” calon mempelai terlebih dahulu. Para pasangan yang ingin melangsungkan perkawinan harus melalui proses ini terlebih dahulu. Keluarga masing-masing melakukan prosesi Basasuluh untuk mengetahui segala hal tentang calon pasangan anak mereka masing-masing.


2. Batatakun atau Melamar.


Setelah diyakini bibit-bebet-bobot calon pasangannya maka pihak keluarga laki-laki akan melakukan prosesi adat selanjutnya yaitu Batatakun atau melamar. Pada proses Batatakun ini pihak keluarga laki-laki akan mengirim utusan yang pandai berbicara dalam hal melamar untuk melakukan proses lamaran ke pihak keluarga perempuan. Jika lamaran tersebut diterima maka kedua pihak kemudian berembuk tentang hari pertemuan selanjutnya yaitu Bapapayuan atau Bapatut Jujuran.



3. Bapapayuan atau Bapatut Jujuran.

Prosesi selanjutnya yaitu Bapapayun atau membicarakan tentang kegiatan perkawinan nantinya. Dalam proses ini masing-masing phak calon pengantin akan mengutus seorang utusan yang dipercaya untuk membicarakan hal tersebut.


4. Maatar Jujuran atau Maatar Patalian.


Proses Maatar Jujuran merupakan proses mengantar pernak-pernik untuk calon pengantin perempuan. Tujuan dari proses ini juga sebagai tanda pengikat untuk calon pengantin perempuan. Juga sebagai pertanda bahwa perkawinan akan dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para ibu-ibu baik dari pihak keluarga maupun tetangga.

5. Bakakawinan atau Pelaksanaan Upacara Perkawinan .

Sebelum hari pernikahan atau perkawinan, maka calon pengantin perempuan mengadakan prosesi adat tersendiri sebagai tanda persiapan pernikahan nantinya, antara lain :


a. Bapingit dan Bakasai.


Bapingit atau istilah lainnya yaitu membatasi kebebasan calon pengantin hal ini dimaksudkan untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam proses Bapingit ini biasanya diisi dengan merawat diri yang disebut dengan Bakasai. Tujuannya yaitu untuk membersihkan dan merawat diri agar tubuh menjadi bersih dan muka bercahaya atau berseri waktu disandingkan di pelaminan.

b. Batimung.

Biasanya ketika acara perkawinan berlangsung maka akan banyak keringat yang keluar, hal ini pasti sangat mengganggu terutama pengantin perempuan karena akan merusak make up dan yang lainnya. Untuk mencegah hal tersebut terjadi maka ditempuh cara yang disebut Batimung. Biasanya calon pengantin diminta masuk kedalam tempat yang tertutup rapat, didalam tempat tersebut sudah disediakan air yang sedang direbus. Di dalam rebusan itu airnya telah dicampur dengan berbagai macam bunga dan rempah-rempah supaya uap harum dari rebusan menyerap kedalam tubuh.

c. Badudus atau Bapapai.

Mandi Badudus atau bapapai adalah upacara yang dilaksanakan sebagai proses peralihan antar masa remaja dengan masa dewasa. Tujuan lain dari proses ini juga penangkal dari perbuatan-perbuatan jahat. Upacara ini dilaksanakan tiga atau dua hari sebelum upacara perkawinan. Upacara ini dilakukan pada waktu sore atau malam hari.
Inilah salah satu adatt istiadat yang biasa dilakukan oleh Suku Banjar ketika akan melaksanakan proses pernikahan atau perkawinan. Menuliskan proses adat ini mengingatkanku waktu aku menjalani proses ini ketika mau menikah.


Adat istiadat lainnya yang menjadi penyempurna kekayaan Indonesia yang ada di pulau Kalimantan yaitu UPACARA ADAT BADUDUS ATAU UPACARA ADAT TOLAK BALA. Istilah lain dari Badudus yaitu Bapapai atau mandi-mandi. Tujuan dari prosesi adat ini untuk menghindarkan diri dari segala macam bala atau musibah, penyakit lahir ataupun batin. Untuk prosesi adat Badudus ini di masyarakat Banjar dikenal 3 macam prosesi adat yaitu :

1. Badudus dalam proses menuju pernikahan.

2. Badudus Mandi Tiang Mandaring


Mandi Tiang Mandaring atau istilah lainnya yaitu Bapagar Mayang. Prosesi adat ini dikhususkan bagi perempuan yang sedang mengandung. Upacara ini merupakan prosesi untuk memperingati usia kandungan 7 bulan.

Pada proses adat ini, perempuan yang sedang hamil 7 bulan akan didandani dengan pakaian secantik-cantiknya. Pada upacara ini disediakan pagar mayang, berupa pagar yang disekelilingnya digantungkan mayang-mayang pinang. Di dalam pagar tersebut juga ditempatkan perapen, air bunga-bungaan, air mayang, keramas asam kamal, kasai tamu giring, dan sebuah galas dandang diisi air yang telah dibacakan doa-doa.
Pada pintu pagar mayang ditempatkan juga kuali tanah dan telur ayam. Kuali tanah dan telur tersebut nantinya harus diinjak ketika perempuan tersebut keluar dari pintu pagar mayang. Selesai upacara ini perempuan tian mandaring dibawa ke dalam rumah di hadapan hadirin rambutnya disisir, dirias dan digelung serta diberi pakaian bagus. Sebuah cermin dan lilin yang sedang menyala diputar mengelilingi perempuan tian mandaring dan dilakukan sebanyak tiga kali, sambil ditapung tawari dengan minyak likat baboreh. Sumbu lilin yang telah hangus disapukan ke ulu hati perempuan tian mandaring dengan maksud untuk mendapatkan keturunan yang rupawan dan baik hati.

3. Badudus dalam penobatan Raja atau penganugerahan gelar

Sebelum prosesi adat Badudus ini dimulai biasanya para undangan membacakan doa selamat. Setelah itu calon Raja akan dipasangkan mahkota selanjutnya akan diarak menuju tempat prosesi Badudus atau Pagar Mayang. Di dalam pagar mayang sudah diasiapkan perlengkapan buat prosesi adat tersebut seperti piduduk, sasangan dan yang lainnya. Sesudah proses Badudu s dilakukan maka sang Raja akan dibawa kembali ketempat perjamuan para undangan. Di ruang perjamuan sudah disediakan Gunung emas dan Gunung Perak serta 41 macam jenis makanan khas Banjar. Sebelum acara perjamuan dimulai maka ada dilakukan dulu prosesi adat Bacarmin. Calon Raja didudukkan di tempat khusus ditemani oleh penasehat agama kerajaan. Sementara itu di depan Raja duduk para kerabat kerjaan juga sudah duduk dalam posisi melingkar. Proses Bacarmin ini dilakukan oleh kerabat kerajaan ang melihat wajah mereka satu persatu disebuah cermin kecil yang diterangi oleh lentera. Hal ini dilakukan secara bergantian atau secara berputar sebanyak 7 kali putaran. Tujuan dari prosesi ini yaitu kesediaan para kerabat kerajaan dan calon Raja untuk selalu mawas diri. Ritual terakhir yaitu Batapung Tawar. Tujuannya agar calon Raja dihindarkan dari segala macam marabahaya.



**sumber foto : kesultananbanjar.com

Adat istiadat unik lainnya yang menjadi pesona provinsi Kalimantan Selatan yaitu BAAYUN MULUD. Istilah lain dari Baayun mulud ini yaitu Baayun anak. Prosesi adat juga merupakan salah satu prosesi untuk menolak bala atau musibah. Upacara ini ditujukan untuk anak-anak yang berusia sekitar 0 – 5 tahun. Tradisi ini rutin dilakukan setiap tahun setiap tanggal 12 bulan Maulid atau 12 Rabiul Awal.




Baayun mulud berarti proses mengayun anak pada bulan Maulid. Ayunan yang biasa digunakan pada upacara adat ini yaitu kain yang disebut juga dengan tapih bahalai. Kain sarung wanita yang ujungnya diikat dengan tali atau pengait. Pada tali tersebut diikatkan buku surah Yasin, daun jariangau, kacang parang dan ketupat guntur. Hal ini bertujuan sebagai penangkal jin atau penyakit yang bisa menyerang bayi. Ayunan yang digunakan untuk Baayun mulud ini juga dihias dengan berbagai macam hiasan yang berasal dari janur pohon nipah, kelapa atau enau. Janur tersebut dirangkai membentuk rangkaian tangga pangeran, tangga putri, payung singgasana, patah kangkung, kembang serai dan lain-lain. Selama prosesi acara ini dimulai maka sepanjang acara akan dihiasi dengan lantunan pembacaan kitab maulid Nabi, ayat-ayat Al-Qur’an dan ceramah agama.

Masih banyak lagi adat istiadat unik yang terdapat di pulauku ini karena Kalimantan juga merupakan pulau yang sangat kaya dengan adat istiadatnya yang merupakan warisan leluhur buat generasi bangsa selanjutnya. Sudah sangat patut kita berbangga hati dan senantiasa menjaga kelestarian semua adat istiadat yang ada di bumi Indonesia ini sebagai khazanah warisan bangsa yang sangat istemewa.


Salam




#ODOP
#EstrilookCommunity
#Day15

2 komentar:

  1. @ Adang N.M. & Samsul Utama : makasih ya udah mampir ^_^

    iya nih, sebenarnya masih banyak tradisi dan adat yang menghiasi pulau Kalimantan, nanti deh kapan-kapan disambung nulisnya...

    ReplyDelete