Ketika Sangat Lelah, Karena Terus Menyimpan Amarah




Bermimpi dan memiliki cita-cita, hal ini merupakan perkara yang sangat lumrah terjadi dan pastinya tidak salah untuk dilakukan oleh siapa saja, termasuk kita juga. Lalu, kita akan mengupayakan semua yang kita bisa untuk mencapai mimpi kita. Mempelajari semua yang kita anggap perlu, agar bisa membuat kita kaya akan ilmu dan berbekal sejumlah pengetahuan yang semoga saja tidak akan kurang ketika kelak dibutuhkan.

 Sebuah kemarahan yang terpendam kadang akan membuat kita melewatkan mimpi-mimpi kita dan membuat kita semakin jauh dari semua itu. Berhentilah marah pada diri kita sendiri, sebab tak seorangpun dapat melakukan hal itu untuk diri kita.

 Sesekali, hidup ini tidak akan selalu seperti yang kita mau, meskipun kita telah begitu dekat dengan keinginan kita itu. Sadarilah akan hal itu. Janganlah hidup dalam kemarahan, agar kita bisa mengerjakan hal lainnya yang lebih berguna selain dari marah saja. Jika dulu kita bisa memiliki gairah yang besar untuk berhasil, lalu kenapa dengan sekarang?

 Kita masihlah orang yang sama, yang memiliki mimpi dan banyak harapan indah lainnya di dalam hati kita dan kini menutupi semua itu dengan kemarahan kita yang entah sampai kapan. Sungguh, kita telah rugi besar atas sikap kita saat ini. Lepaskanlah kemarahan kita tersebut dan janganlah menyimpan amarah dengan cara memaafkan diri kita sendiri. Berdamailah dengan diri kita sendiri, agar kita bisa kembali kepada diri kita yang dulu, yang bermimpi dan memiliki keinginan besar untuk sukses dan berhasil.

 Hidup tidaklah menjanjikan jalan searah tanpa persimpangan, dimana jalan ini pasti menuntun kita pada satu titik keberhasilan. Namun, hidup akan membawa kita pada jalan dengan banyak persimpangan yang akan mengajari kita menemukan satu jalan untuk menuju keberhasilan. Jadi, pastikan kita siap untuk mengahadapi banyak persimpangan itu, sebelum akhirnya menemukan keberhasilan kita!


Salam



11 komentar:

  1. Ah, saya pernah. Saya pernah begitu marah dengan kehidupan, kenapa begini, kenapa begitu. Hasilnya, hati saya jadi penuh beban. Skg saya coba ikhlas. Duh, jadi curhat kan aku Mbak, hehe... Menyentuh sekali mbak tulisannya...

    ReplyDelete
  2. marah memang membuat kita menjadi tidak fokus pada tujuan yang akan kita raih, marah itu boleh tapi harus tahu kadar dan waktunya. betul sekali mbak, kita tidak boleh dibelenggu oleh rasa marah

    ReplyDelete
  3. Saya juga pernah di kondisi ini, marah sama hidup yang saya jalani kenapa bisa berbeda dngan org lain yg kelihatannya mudah, ah sudahlah, jadinya saya intropeksi diri dan selalu bersyukur membuat kita melupakan hal2 tersebut

    ReplyDelete
  4. Berdamai dengan ketidaknyamanan dan mengikhlaskannya, sering kali membuat hati lebih tenang dan bisa move on.

    ReplyDelete
  5. Paragraf di bagian akhir itu penting banget. Mempersiapkan diri menghadapi persimpangan hidup & memilih 1 jalan yg akan membawa pada kebaikan.

    ReplyDelete
  6. "Lepaskanlah kemarahan kita tersebut dan janganlah menyimpan amarah dengan cara memaafkan diri kita sendiri. Berdamailah dengan diri kita sendiri, agar kita bisa kembali kepada diri kita yang dulu, yang bermimpi dan memiliki keinginan besar untuk sukses dan berhasil" suka dengan kata-kata ini. Ya tidak ada gunanya juga menyimpan amarah.

    ReplyDelete
  7. Saya malah tipe yg lgsg meledak ketika marah. Kata suami itu gak baik. Jadi dikit2 udah direm. Rasanya...gak enak banget pendam amarah. Hiks

    ReplyDelete
  8. Saya malah tipe yg lgsg meledak ketika marah. Kata suami itu gak baik. Jadi dikit2 udah direm. Rasanya...gak enak banget pendam amarah. Hiks

    ReplyDelete
  9. terkadang saya marah ketika ada hal-hal yang menurut saya gagal saya capai. memang lelah rasanya ya mb.. jd selalu berusaha (harus bisa) bersyukur atas apapun dan menerima keadaan walau tidak sesuai harapan.. Allah berikan yg terbaik sesuai kebutuhan kita,bukan sesuai keinginan kita..

    ReplyDelete
  10. Dulu saya gampang marah, rasanya memang tidak enak banget.
    Sekarang, alhamdulillah, sudah jauh lebih selow menghadapi apa pun, tapi tetap ada hal-hal tertentu yang memancing kemarahan saya muncul meski tidak sebanyak dulu. Harus terus belajar jadi orang yang sabaaar saya.

    ReplyDelete