Lentera Hidupku




Angin membelai lembut helai demi helai rambutku. Aku sangat suka duduk-duduk santai di teras belakang rumah sambil menunggu ibu pulang berjualan di pasar. “Ohhh…angin ingin sekali aku bisa terbang bersamamu, kuajak ibu melihat indahnya alam ini bermain di atas pelangi bermandikan lembutnya awan.” Bergumamku dalam sepi. “Assalamua’alaikum…lho, anak ibu yang cantik ini kok masih duduk disini? Suara ibu mengejutkan lamunanku. “Wa’alaikumussalam…ngga kok bu, aku baru aja duduk disini sambil nunggu ibu pulang.” Sambil menggandeng tanganku ibu menyuruh aku masuk ke rumah.

 Aku hanya tinggal berdua dengan ibu di rumah yang kecil ini. Bapak sudah lama meninggal sejak aku masih berumur 3 tahun. Sekarang umurku 9 tahun. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ibu berjualan sayur di pasar. Maghribpun tiba…seperti biasa aku sholat berjama’ah dengan ibu. Aku sangat bahagia walau hanya tinggal berdua dengan ibu. Ibu bagaikan pelita dalam hidupku. Rumah ini terasa besar dan luas karena selalu dihiasi dengan kasih sayang ibu untukku.

“lho…kenapa masuk, kataya tadi mau metik bunga di halaman? Ngga ahh…nanti aja, aku bantu ibu masak aja. Biarkan aja ya nak, insyaAllah suatu saat nanti mereka pasti tidak akan begitu lagi.” Aku menangis sambil memeluk ibu. Aku ingin sekali mempunyai teman dan bermain dengan mereka. Apa aku salah punya keinginan seperti itu. Tapi tidak ada satupun dari mereka mau berteman denganku. “Wulan, kok nangis sayang…hayoo, jangan nangis senyum dunk nak, nanti abis makan ibu ajak Wulan ke bukit maukan..? akhirnya aku bisa tersenyum mendengar ajakan ibu.

Kemarin ibu bercerita padaku tentang keindahan alam di atas bukit, ibu bilang dari atas bukit kita bisa melihat sawah yang menghijau, pepohonan yang berjejer rapi, hembusan angin yang menyegarkan ketika menyentuh kulit, dan ibu juga bilang padaku di atas bukit sana terdapat sebuah rumah yang sangat cantik dan besar tapi tidak ada penghuninya sepertinya pemilik rumah itu tidak tinggal disini. Ingin sekali aku pergi kesana dan ternyata keinginanku itu terwujud. Terima kasih Bu…



Setelah cukup jauh berjalan, akhirnya kami sampai di atas bukit. “Bu…benar kata ibu hembusan angin disini sangat nyaman dan tenang. nah…ini rumah yang pernah ibu ceritakan pada wulan waktu itu, rumahnya sangat besar dan cantik. Rumah ini milik siapa ya bu…? Hmm…ibu juga ngga tau nak, mungkin pemiliknya kadang-kadang aja dating kesini atau tidak tinggal disini makanya rumah ini terlihat kosong. Ibu suka dengan rumah seperti ini? Aku bertanya pada ibu “ ibu suka dengan rumah seperti apapun bentuk dan ukurannya asalkan Wulan juga ada disana menemani ibu.” Aku tersenyum mendengar ssahutan ibu atas pertanyaanku. “kalau aku bisa, nanti kubuatkan ibu rumah seperti ini. Tidak usah nanti, sekarang juga bisa kok.” Ibu menyahut.

Kernyitan dahiku membuat ibu tertawa kecil. “iyalah nak, sekarangpun Wulan dah bisa membuatkan ibu rumah seperti ini, tapi tidak di dunia ini. Ibu minta Wulan bisa membuatkannya di akhirat sana. Wulan menjadi anak yang sholihah, berbakti sama orang tua, senantiasa berdoa untuk Ibu maka dari itu Wulan sudah memberikan ibu tiket gratis masuk syurga dan insyaAllah rumah yng lebih indah dan cantik sudah dibangun disana untuk Ibu dan Wulan. Amiin…” kusahut kata-kata ibu sambil memeluknya.

Pagi ini ibu mengajakku ke rumah Bude Ratmi untuk mengantar cucian. Selain berjualan ibu juga menjadi buruh cuci. Ibu mau mengerjakan apa saja asal kerjaan itu halal dan ibu juga terlihat senang mengerjakannya. Bagi ibu semua itu bukanlah beban. Bu…kau memang sosok yang luar biasa. Pulang dari rumah Bude Ratmi, tiba-tiba langkahku terhenti. Terdengar riuh suara anak-anak yang sedang bergembira. Sepertinya langkahku ini terhenti di depan sekolah. Ibu memelukku tanpa ada sepatah katapun. “ayo Bu…kita pulang.”

Hari ini seperti biasanya sambil menunggu ibu pulang berjualan di pasar, aku ingin memetik beberapa bunga-bunga yang ada di halaman rumah. Ibu senang sekali menanam bunga. Harum bunga sudah sangat tercium itu menandakan bunga-bunga itu bermekaran. “kau suka bunga..? sebuah suara lembut mengejutkanku dari belakang, suara siapa itu? yang jelas bukan suara ibu. “kamu siapa?” kucoba berdiri mengarah pada sumber suara tadi. “masyaAllah kamu buta ya…aku Ratih. Iya, aku memang buta, kenapa…kamu kaget telah menyapa orang yang buta? Ohh…tidak, kamu jangan salah sangka karena selama beberapa hari ini dari kejauhan aku sering melihatmu duduk di teras belakang rumahmu atau sedang memetik bunga.

Kamu keliatan seperti biasa aja berjalan tanpa menggunakan tongkat, makanya aku tidak tau kalau kamu buta.” Tanpa kusadari dia mengenggam sebelah tanganku dan mengajak aku duduk di teras rumah. “kalau dia aku memang sudah terbiasa tidak menggunakan tongkat karena aku sudah hafal dengan posisi barang-barang yang ada disini, oiya…sampai lupa namaku Wulan.” Aku memperkenalkan diri sambil merapikan bunga yang ada ditanganku. “oiya Wulan, aku tinggal di rumah yang ada di atas bukit sana. Dari belakang rumahmu bisa terlihat jelas rumahku. Makanya aku bisa melihat dirimu beberapa hari ini. Ohh…ternyata rumah besar di atas bukit itu rumahnya Ratih ya? Iya…biasanya sekitar 2 bulan atau 3 bulan sekali aku dan keluargaku menginap di rumah itu.

Ibuku pernah menceritakan tentang rumah itu kata ibu rumahnya besar dan sangat cantik.” Ratih tertawa kecil mendengar omonganku. “nanti kapan-kapan kuajak kau ke rumahku” kata Ratih sambil membantu aku merangkai bunga. “Wulan, sekarang dah kelas berapa?” aku diam mmbisu ketika Ratih menanyakan itu, sambil tertunduk aku menjawab pertanyaan Ratih dengan pelan. “aku tidak sekolah, ibu tidak punya biaya untuk menyekolahkanku, tapi biar ngga sekolah aku punya guru terbaik di rumah ini yaitu ibu. Ibu mengajariku bercerita dan bernyanyi. Jadi bila ibu sedih aku akan menghiburnya dengan cerita dan nyanyian.” Ratih kembali mengenggam tanganku sambil berkata, “berarti ibumu itu orang yang hebat.” Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara yang sedang memanggil-manggil “ non Ratih…non…walah, ternyata disini toh, ayo non pulang dicari sama ibu. Iya mbok, tunggu sebentar. Wulan, aku pulang dulu ya…nanti aku kesini lagi.”

***

Malam hari setelah sholat maghrib aku menceritakan sama ibu tentang perkenalku siang tadi dengan Ratih. Aku juga mengatakan pada ibu bahwa rumah yang ada di atas bukit itu adalah rumah keluarganya Ratih. Mereka ada disini karena sedang liburan. Aku sangat bahagia karena aku punya teman. Selama ini tidak ada yang mau berteman denganku karena aku buta. Aku tidak bisa bermain dengan mereka bahkan kadang mereka hanya bisa mengejek dan mentertawakanku bila aku terjatuh lantaran tersandung batu. Ibu memelukku sambil mengelus kepalaku dengan lembut, “ibu senang banget ngeliat Wulan bahagia seperti ini, nanti kenalkan sama ibu ya..teman Wulan yang tadi.” Aku tersenyum, aku sangat sayang ibu.

pertamaku ketika melihat dunia ini adalah melihat wajah ibu. Sosok wanita yang selama ini selalu ada untukku. Ibu bagaikan lentera dalam gelapku. Aku ingin melihat wajah itu wajah yang selama ini memiliki segudang kesabaran ketika mengasuh dan meredakan emosiku. Tapi dimana…suara ibu tidak terdengar olehku. Perban dibuka. Mana ibu…???

“Kita mau kemana tante? Aku bingung. “kita akan pulang kerumah Wulan” tante Sylviana menyahut pertanyaanku sambil menahan getar dibibirnya. Sampai dirumah, terlihat banyak orang berkumpul membuat aku semakin bingung. Tante dan om menggandeng tanganku menuju ruang tengah. Illahi Rabbi…siapa yang meninggal?? Aku mendekati sosok yang telah ditutupi kain. Ketika kubuka, Rabbi…ibu…Allah, walau aku belum pernah melihat wajah ibu tapi aku bisa merasakan kehangatan ibu lewat kasih sayangnya. Aku memeluk, mencium kening dan tangannya yang sudah terasa sangat dingin. Aku membisikkan sesuatu di telinga ibu, “bu…ini wulan…Wulan sudah bisa melihat bu..Wulan bisa melihat wajah cantik ibu.

Seperti janji Wulan dulu, Wulan akan selalu mendoakan ibu, menjadi anak yang sholehah sehingga wulan bisa membuatkan rumah besar untuk ibu nanti di syurga sana, Wulan ikhlas dengan kepergian ibu.” Aku berusaha menahan tangisku, aku tidak ingin melihat ibu sedih bila melihat aku menangis. Ibu pernah bilang, kematian itu adalah hak mutlak Allah atas hamba-Nya. Hatiku serasa sudah tidak berbentuk lagi tapi aku harus ikhlas. Walau tangan ibu tidak bisa menggenggam tanganku lagi tapi kasih sayangnya senantiasa kugenggam dalam hati ini untuk bisa terus melangkah menelusuri hidupku. Lentera hidupku sudah pergi menghadap Rabbnya tercinta. Aku mendapatkan lentera baru lewat mata ini.


Salam


0 komentar:

Post a Comment