Penting Moms! Cara Jitu dan Ampuh Mengubah Perilaku atau Karakter Anak



Sebagian orangtua termasuk kita mungkin merasa cukup stress pada saat mengasuh anak. Anak-anak zaman now lebih pintar, begitu mungkin kata kita semua. Sehingga selalu akan punya alasan untuk tidak mau mematuhi peraturan. Anak-anak itu selalu tahu bagaimana cara membantah ucapan kita.

Hal ini mungkin membuat kita sangat khawatir anak-anak tidak merespons apapun yang kita minta. Bila sudah merasa gagal untuk meminta anak melakukan apa yang kita mau, kita pun langsung balik merespons dalam bentuk bentakan. Pendek kata yang bisa menunjukkan power kita sebagai seorang orangtua.

Kita berusaha untuk mengembangkan sebuah pola pengasuhan yang cukup berbeda namun tetap tak ada hasilnya. Maklum, sikap untuk membangkang anak-anak itu sudah terbentuk sudah sejak lama sehingga cukup sulit untuk diubah.

Benarkah kita sudah terlambat untuk bisa mengubah cara mengasuh anak-anak ketika karakter mereka sudah telah terbentuk? Menurut James Lehman, sebuah terapi perilaku anak-anak, tidak ada kata terlambat untuk mengubahnya. Mungkin memang tidak cukup gampang, tetapi akan ada cara cukup efektif yang bisa mulai kita lakukan untuk mengubah cara kita merespons dan memperbaiki perilaku anak-anak kita.

Tentukan Hal yang Dapat Kita Lakukan Lebih Dulu

Salah satu hal yang menghambat yaitu ketika kita tidak mengetahui harus mulai dari mana. Namun, mulailah dari hal-hal sederhana yang menempatkan anak dalam kondisi berisiko secara emosional maupun fisik. Misalnya, ketika anak menciderai anak tetangga, merusak mainannya, atau nekad menyeberang jalan. Tentu kita tidak dapat mengubah semuanya sekaligus. Kita harus mulai membicarakan tentang nilai-nilai dan moral kepada anak-anak, hal-hal yang membahayakan dirinya dan anak-anak lain.




Mulailah Satu-Persatu

Ketika anak merasa kesal lalu masuk ke kamar dan membanting pintunya sambil membentak kita, lakukan satu hal yang ingin kita ubah pertama kali. Kita bisa menegurnya dengan mengatakan, "Jangan menyumpah, itu tidak sopan dan tidak menyelesaikan masalah. Lagipula, kamu bikin Ibu sedih. Bisa enggak lain kali kamu tidak menyumpah ketika sedang kesal?"

Lalu, berikan pilihan mengenai apa yang harus dilakukannya. Misalnya, masuk ke dalam kamar supaya bisa menenangkan diri. Setelah urusan menyumpah itu selesai, kita bisa menuju ke persoalan lainnya. Ubahlah satu demi satu perilaku yang kita rasa salah. Jangan mencoba untuk mengatasi semuanya sekaligus.

Jelaskan Perubahan yang Kita Inginkan

Jika kita akan melakukan pendekatan baru saat menghadapi perilaku anak yang salah, ada baiknya apabila kita menjelaskan alasannya kepada si buah hati. Mungkin hal tersebut akan membuat anak kita marah dan frustrasi. Namun jangan biarkan kemarahan tersebut dijadikan anak untuk berargumentasi dengan kita.

Katakan bahwa kita mengerti bahwa ia kesal, namun minta ia untuk  bekerja sama sebagai sebuah keluarga. Disarankan juga agar kita tidak berbicara panjang-lebar, tidak spesifik, dan tidak terfokus, agar anak lebih mudah menerima atau memahami apa yang kita inginkan.

Katakan Pada Anak Tujuan Kita Mengubah Peraturan

Dengan mengatakan tujuan yang diharapkan, kita memberikan kepercayaan kepada buah hati kita untuk membantu mewujudkan perubahan tersebut. Sangat penting untuk menyadari bahwa apa yang keluar dari mulut kita tidak selalu dipahami anak seperti yang kita inginkan.

Ketika anak tidak mengerti apa yang kita bicarakan, mereka dapat menjadi frustrasi, khawatir, dan marah, meskipun mungkin mereka mencoba untuk tetap tenang. Apapun itu, kita dapat mengatakan, "Mari kita lihat jalan keluarnya." Itu adalah salah satu cara untuk mendekati anak kita dan mengubah persepsi hubungan antara kita dan dia.

Membatasi Peluangnya 

 

Jika kita khawatir anak akan melakukan sesuatu yang merugikan, salah satu yang dapat kita lakukan adalah membatasi peluang anak untuk melakukan hal-hal tersebut. Misalnya, si ABG kita senang mengendarai mobil dengan ceroboh. Ia tidak mau menuruti aturan kita untuk mengemudi dengan aman. Maka yang bisa kita lakukan adalah menyita mobilnya.

Itulah yang terjadi ketika kita membatasi peluang anak untuk membawa mobil. Membatasi peluang adalah salah satu cara paling sederhana untuk membentuk perilaku anak. Kita bisa mengembalikan mobil tersebut ketika ia sudah bisa menunjukkan perubahan perilakunya.

Jangan Mengharapkan Empati Anak

Meminta empati bukanlah pendekatan yang dapat meyakinkan anak kita, terutama bagi anak-anak remaja yang cenderung kurang berempati pada orang lain. Untuk mengubah sesuatu, kita harus menunjukkan akibat yang ditimbulkan dari perilaku anak kita. Jika ingin anak kita berhenti berbohong, Kita harus dapat melakukan suatu cara agar anak menyadari akibat dari kebohongan yang dilakukannya. Dengan begini, kita tidak perlu bergantung pada empati anak kita.

Tetapkan Batas dan Beri Konsekuensi

Salah satu hal yang penting dalam mengasuh anak adalah menetapkan batasan pada mereka. Kita memang tidak bisa mengatur anak untuk melakukan sesuatu sesuai harapan kita. Namun, kita bisa mengarahkan anak untuk melakukannya. Misalnya, kita meminta anak untuk masuk ke kamar dan tidur. Tetapi, anak tidak mau tidur.

Maka, kita bisa mengajaknya masuk ke kamar, dan membuatnya mengantuk.  Kita bisa mengombinasikan konsekuensi dan motivasi agar anak pun bisa mengantuk. Katakan, "Kalau tidak cepat tidur, besok bisa bangun kesiangan." Lalu, padamkan lampu kamarnya, dan matikan televisi atau radionya. Inilah yang akan membantunya untuk mengantuk.

Ingat, konsekuensi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Konsekuensi yang "efektif" adalah ketika anak mulai merespons, meskipun hanya sesaat. Dengan demikian, kita tidak perlu menggunakan hukuman yang lebih besar.

Jadi, apakah sekarang kita mengetahui bagaimana cara untuk mengubah gaya pengasuhan kita? Nah, moms tidak ada kata terlambat untuk kita apabila kita ingin merubah perilaku ataupun karakter anak kita. Semua itu tergantung kita ya moms! Asalkan kita terus berusaha memahami dan mempelajari semua ilmu tentang anak kita maka pasti kita bisa membentu karakter terbaik untuk anak kita.

Salam



2 komentar:

  1. Aku pun melakukan pembatasan pada hal-hal tertentu. Alhamdulillah dg pembatasan itu anak jd mengerti dan skrg malah mereka terbiasa, walau awalnya agak sulit.

    ReplyDelete
  2. Saya baru merasakan sedikit perasaan itu. Si sulung baru menjadi pendebat yang ulung. Memang salah satu tahapan usia ada masa pendapatnya butuh didengarkan dan kita sebagai orang tua menyebutnya masa pembangkangan 😣

    ReplyDelete